Ya, masa anak-anak ialah masa yg paling mengasyikkan, tanpa
beban. Masa dimana kita bisa hidup sebebasnya, menangis sekerasnya, tertawa
sesukanya. Berlari kesana kemari, jatuh-menangis-diam-sudah (tak pernah
menangisi 2x atau lebih karena jatuh yang sama, ia hanya akan jatuh yg lain)
tanpa merenungi atau mempermasalahkan jatuhnya itu. Ia selalu menggemaskan, hal
apapun yg ia kerjakan tak pernah ada yang menyalahkan. Tak ada yang menghujat
kepada dia : “Dewasalah! Mengertilah”. Tak
pernah terpikir akan jadi apa dan bagaimana masa setelah itu, tak pernah berpikir
siapa yang akan jadi jodohnya kelak. Tak pernah duduk merenung memikirkan
hal-hal yang absurd. Yang ia tahu
hanya Ibu sosok ‘perempuan’ yang ia sayangi, dan menyayanginya sepenuh hati,
tanpa pamrih, tanpa imbalan. Bukan sosok yang abu-abu yang ia pikirkan.
Ia tak mengenal masa setelah itu, dan tak
pernah ingin berkanalan. Ia hanya mengenal masa bermain, tanpa ada masalah. Pada
kenyataannya masa setelah masa anak-anak adalah kemunafikan, kebancian. Jika ia
tau, pasti ia tak akan mau meninggalkan masa anak-anak. Aku ingin sejenak menjadi
anak-anak, menjadi tak mempedulikan masa sekarang, bahkan depan. selalu tenang, ceria dan bahagia. Selalu mencintai dan membutuhkan ibu, bukan kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar