Andai hp pintar tidak ada. Kita akan
benar-benar diam dalam redup ruang cafe itu. Hanya melakukan gerak kecil agar
tak terlihat terlalu tegang. Ikut bernyanyi lagu yang diputar karyawan cafe. Namun,
hp pintar nyatanya tak cukup pintar memahami situasi dan kondisi. menjadi
pelampiasan atas bekunya keadaan.
Maaf, bukan ku bisu. Tapi
bicara panjang lebar dan sok akrab bukan keahlian ku. Selain itu, ini pertama
dan sempat tak percaya ini nyata. Berada pada meja yang sama dalam ke-belum
akraban. Haha, baru ketemu pasti malu-malu.
Dipertemukan oleh keadaan
pada jalan yang sebelumya tak pernah terpirkan. Tak peduli bagaimananya
perasaanmu. Yang paling penting, perasaan dan pikiran ini berobjek. Pun doaku,
kusandingkan perimntaan atas segala kebaikan pada mu dengan bapak ibu.
Bukan lagi rasa ini
menuntut terbalas. Ataupun diketahui. Ia hanya butuh kebebasan atas
pengekspresiannya. Lagi, sajakku bertuan. Ia tau kemana harus pulang. Asal kamu
tahu.
Biar waktu saja yang
berkata tentang bagaimananya ini. Menjelaskan semunya tanpa grogi. Dan
anggukanmu yang mengiyakannya. Bukan masalah berani atau tidaknya ku
mengungkapkan, tapi ada kalanya kita terlalu berlebihan, dan tak semua dari
kita berfikir yang kita fikirkan.
Lalu, keabsurdan tulisan ini jangan
dipermasalahkan. Setiap kita punya cara pelampiasannya masing-masing. Nikmati
atau tinggalkan.
Akhir, jalan mana menujumu?
Yang paling berat, yang paling banyak hambatan. Agar proses jadi saksi, kita
tak sesederhana mengetiknya. ngg.
