Kamis, 22 Maret 2012

Islam dan Positive Thingking



Cetak E-mail
Ditulis oleh Abdullah Hakam Syah   
Islam memfasilitasi umat manusia agar dapat menikmati hidup ini dengan tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan
berseri-seri. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Untuk mewujudkan hidup yang sealu tersenyum, ringan dan tanpa beban
tersebut; Islam memberikan beberapa tuntunan. Yaitu di antaranya:
menjaga keseimbangan, selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan), juga
dengan berpikir positif. Namun karena keterbatasan ruang dan waktu,
saya akan membatasi pembahasan kali ini hanya tentang khusnudzdzan
dan berpikir positif.

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai
menekankan pentingnya khusnudzdzan dan berpikir positif? Paling
tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.

Pertama, kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena
ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita kira. Contoh
terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa
Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah Subhanahu wa Ta'ala
memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang
sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut.
Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi
Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau
menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu
bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.

"Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar", tambah Nabi Khidhir
lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah
perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!!
Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi
hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tak
sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu
menafsirkan yang bukan-bukan. (Qs. Al-Kahfi: 60-82).

Dalam kisah Qur'ani ini, poin penting yang dapat dipetik: kita harus
selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain.
Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab
kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik
apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.

Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu
keburukan menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan pembuktiannya dalam
teladan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika seluruh
kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama
turunnya wahyu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah
untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun
yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta
melumuri wajah beliau dengan pasir.

Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah, "Wahai Muhammad,
(dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa
kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nuh –`Alaihi As-
Salam—atas kaumnya." Rasulullah segera mengangkat tangan beliau.
Tetapi yang terucap dalam doa beliau bukanlah doa kutukan, melainkan
untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah
menyakitinya, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku.
Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena
mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa
menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu." ("Al-Ahadits Al-Mukhtarah,
karya Abu `Abdillah Al-Maqdasi, 10/14).

Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa
tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur
memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai
dengan ajaran Al-Qur'an, "Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab." (Qs.
Al-Fushilat: 34)

Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati
dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak
menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak
memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang
berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya
maupun orang lain.

Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni
hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai
bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan
balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan
Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai
kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal." (Riwayat Al-
Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!! Beliau yang
seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya
bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu,
ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif –agar
menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah
dari seorang sufi: "Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu
baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik
kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan
Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup kita lebih legowo,
karena toh Allah Subhanahu wa Ta'ala seringkali menyiapkan rencana-
rencana yang mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin
Khaththab Radhiyallahu `Anhu dirundung kegalauan yang menyesakkan.
Salah seorang puteri beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja
menjanda. Maka Umar datang menemui Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu
menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak.
Kemudian Umar menawari Utsman bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk
menikahi Hafshah, namun Utsman pun menolaknya. (Shahih Al-Bukhari,
4/1471. Versi penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al-
Qurthubi, 13/271).

Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah
Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut.
Maka Rasulullah menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga
bisa menjalani hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan
berdoa, "Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi Hafshah, yang
jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman, yang
jauh lebih baik dari Hafshah."

Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan
puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah.
Allahumma InnĂ® qad ballaghtu, fasyhad…!


Abdullah Hakam Shah, Lc

sumber : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1067&Itemid=4
»»  lanjut baca

Kamis, 02 Februari 2012

Kemampuan Berpikir Kritis Untuk Generasi Muda Kita


           
    Lepas dari fakta bahwa di negara asalnya, Amerika Serikat, pemikiran ini sudah dan sedang gencar-gencarnya digenjot di bangku sekolah dan kuliah, ketrampilan berpikir kritis memang salah satu bekal dalam menghadapi dunia yang makin kompleks  dimana banjir informasi melanda penghuninya lewat berbagai jejaring sosial di dunia maya. Tanpa kemampuan bernalar kritis, generasi muda Indonesia akan cenderung menelan informasi dari segenap penjuru jagad secara bulat-bulat tanpa olah pikir yang secara cermat dan bijak akan menyeleksi informasi yang benar dan terpercaya. Bukan hanya itu, namun ketika mengenyam pendidikan pun, kemampuan berpikir kritis sangat mereka perlukan untuk  memantapkan tujuan, menentukan berbagai cara mencapai tujuan tersebut, mempertimbangkan segala konsekuensi yang mungkin timbul akibat cara tersebut, menguji sekian banyak asumsi, menarik kesimpulan, sampai pada mengevaluasi hasil yang dicapai. Tak jarang pada proses ini terjadi revisi asumsi dan modifikasi penarikan kesimpulan. Tak jarang pula pada tahap tertentu mereka harus bersikap rendah hati secara intelektual, mau dengan terbuka menerima kesalahan pola pikirnya dan menerima kebenaran cara pikir orang lain. Karena sifatnya yang mendasari cara pikir ini, kemampuan berpikir kritis bukan hanya diperlukan kerika mempelajari materi kuliah dan menyelesaikan tugas, namun juga ketika seorang akademikus melakukan penelitian, mengkaji masalah sosial dan melakukan pengabdian masyarakat, sampai pada memimpin organisasi.

         Konsep berpikir kritis sendiri didefinisikan oleh Ennis (1987) sebagai  cara pikir yang bermula dari penentuan masalah atau pertanyaan secara jelas, yang disusul oleh pencarian informasi dan bukti yang terpercaya dengan mempertimbangkan semua situasi yang ada, kemudian menentukan solusi yang paling tepat, plus dengan kesadaran penuh akan segala konsekuensinya. Semua itu masih harus diimbangi dengan kesediaan berpikiran terbuka, mempertimbangkan beberapa alternatif, dan menarik kesimpulan (inferring) dari semua implikasi alternatif tersebut. Ini akan menjadi sempurna jika dibarengi dengan sikap rendah hati, peka terhadap perasaan dan pengetahuan pihak lain.  Bukankah sikap-sikap seperti ini yang patut ditanamkan dan dikuatkan dalam diri generasi muda terdidik di jaman informasi ini?
Pada tataran praktis pembelajaran di kelas, berpikir kritis bisa diwujudkan melalui serangkaian pertanyaan seperti ini: apa masalahnya? Apa tujuan yang mau dicapai? Sumber daya  dan kemampuan awal apa yang dimiliki? Asumsi apa yang dipakai? Jika sudah ada bukti, seberapa kredibel bukti tersebut? Apa konsekuensi dari cara-cara yang mau diambil untuk mencapai tujuan? Pada akhirnya, apakah solusi yang diambil sudah efektif, dengan dampak merugikan ditekan seminim mungkin?

        Sebagian kalangan mungkin menganggap bahwa uraian di atas memang sudah cara pikir sewajarnya dan bukan sesuatu yang baru. Namun, di tengah budaya pembelajaran yang relatif masih terpusat pada guru dan jawaban tunggal tanpa ruang untuk mengkritisi dan mencari alternatif, ketrampilan berpikir kritis menjadi salah satu agenda pendidikan yang patut dipertimbangkan dalam upaya membentuk generasi muda yang mampu berpikir, bukan sekedar menggunakan otaknya untuk menghafal dan mereproduksi ujaran guru dan uraian buku teks.

Prof. Dr. Patrisius Istiarto Djiwandono
Dosen di Prodi Sastra Inggris, Universitas Ma Chung, Malang
Daftar Acuan:
Ennis, R. (1987). A taxonomy of critical thinking dispositions and abilities. Dalam Barton, J.B., dan Sternberg, R. J. (Eds). Teaching thinking Skills: Theory and practice. Hal 9-26. New York: W.H. Freeman.
 Kemampuan berpikir kritis sudah saatnya ditanamkan kepada generasi muda Indonesia
»»  lanjut baca